Sebuah lawatan kecil berhasil membuka mata nurani yang ber-nyenyak-ria. Melawati halaman, halaman, halaman, halaman dan halaman serta halaman lain yang tak tertutur banyaknya, memperkosa kosa bathin yang terlalu lama berbungkam. Menggerus kecuekan yang lama mengidap obesitas.
Ketika hamparan kejayaan malah terpandang tatap miris, keletihan merasa nestapa semakin mengaparkan diri dalam kedalaman puruk. Bayangan-bayangan selalu terjangkau logika dan angka, melambungkan dalam tempo yang sekejap kala fakta (sekali lagi) berpunggungan dengannya.
Tanpa sadar telah membawa serta gaya. Perlahan.
"Oalah, opo to yo?"
Visualizzazione post con etichetta sok sastra. Mostra tutti i post
Visualizzazione post con etichetta sok sastra. Mostra tutti i post
martedì 24 febbraio 2009
lunedì 9 febbraio 2009
antara sore dan titik
tak ada jeda setelah tiga. kali ini masing² tampil satu. saya coba biarkan sebagaimana orang² melakukanya, dan ketika ini Tuhan mendaulat air untuk merintik dalam ritma yang tidak pernah saya mengerti. tapi satu hal yang wajib saya sadari, bahwa sore tetap akan sore meski tanpa jingga.
l'amante di sera.
warna. cahaya. suasana. cuaca. jarum jam. mentari yang meredup. secangkir kopi.
mereka hanya seumpama bumbu. dan berlalu.
maka biarkan saja matang, hingga tetap bisa dinikmati meski tersaji tanpa embel² 'idealnya'
dan a love that will last -pun mengalun.
l'amante di sera.
warna. cahaya. suasana. cuaca. jarum jam. mentari yang meredup. secangkir kopi.
mereka hanya seumpama bumbu. dan berlalu.
maka biarkan saja matang, hingga tetap bisa dinikmati meski tersaji tanpa embel² 'idealnya'
dan a love that will last -pun mengalun.
Iscriviti a:
Post (Atom)
